Pura Batu Bolong

Sejarah: Pada zaman dahulu di Kerajaan Bangli bertahta seorang Raja bernama Ida  I Dewa Perasi

Sejarah:

Pada zaman dahulu di Kerajaan Bangli bertahta seorang Raja bernama Ida  I Dewa Perasi yang berasal dari satrya Taman Bali, beliau beristana di kaki gunung Bangli yang pucaknya bernama Hyang Ukir/Hyang Api yang merupakan Benteng Tembok Kerajaan Bangli, yang kala itu berpusat di Puri Timbul Alas Soko sebagai pusat Pemerintahan. Di kaki Gunung sebelah utara terdapat dataran rendah, di pojok utaranya terdapat Bukit Pandakan yang angker dan sakral pengaman Hyang Ukir,Hyang Tanda, Hyang Karimana, Pemahyun Kehen .

Di bawah Bukit Pandakan sebelah barat ada wangsa Pasek, beberapa keluarga pondokan Kubu yang juga ada wangsa Pinatih Tulikup mesikara tunggal dengan Ki Pasek, sesana anut linggih sudah nyineb wangsa, tempat tersebut oleh Maharaja Bangli disebut Pekraman Pakubuan, pangemong Hyang Pandakan. Ada disebut putra I Gusti Bija Kula pernah Raja di bale Agung Bangli dahulu, nyineb wangsa tidak lagi menjadi I Gusti, diperintahkan oleh Raja Bangli menjadi pepacek di Selat mendapingi Pasek Sanak Sapta Rsi, oleh karena I Gusti Waya Biya cakap dengan ilmu bathin tetapi sudah nyineb wangsa diperintah oleh Ki Pasek menjadi pepacek di Petak Petepi Siring Bangli, pindah I Gede Biya sekeluarga diikuti oleh panjak pengikutnya yang berasal dari bale Agung Bangli. Ada juga putra dari I Gusti Dangi Pasar yang bernama I Gusti Dangin pindah ke Desa Sekaan bersama empat orang dengan Kawitan Tunggal membawa Punggalan Barong Bangkal, yang mana kayu punggalan terswebut berasal dari Bukit Penulisan, pindah ke Paku Duwi atas ijin dari Jero Mekel Sekaan, oleh jero Mekel tidak diperbolehkan lupa dengan kahyangan di Sekaan.

          Sesudah Raja Bangli Ida I Dewa Perasi memberi tempat pada putra Raja Bale Agung, ada di Siladan, ada di Sidawa yang kesemuanya nyineb wangsa. Tiba-tiba di daerah kekuasaan Raja Bangli di bagian pegunungan Seluluing, Belantih, Bayung, Cempaga sempat lari ke Puri Agung Bangli dengan melarikan prasastinya yang amat disucikan diserahkan pada Raja Bangliuntuk diselamatkan, Prasasti tersebut disimpan di Desa Gunaksa kemudian disebut Cempaga. Dengan datangnya orang Batur yang membawa Prasasti Pura Cempaga baru Raja Bangli tahu bahwa daerah pegunungan sudah dikuasai oleh Laskar Guwak Bala Yudha I Gusti Panji Sakti Raja Buleleng, dengan suara Bende yang dipukulnya tidak henti-hentinya. Bagi yang mendengar suara bende tersebut muncul rasa takut yang besar sehingga lari meninggalkan rumah dan desanya. Saat itu juga Raja Bangli segera mengerahkan Bala Yudhanya ke daerah Penebengan Pusat Pertahanan Kerajaan Bangli  di sebelah utara kaki Gunung Bangli. Untuk menolak kekuatan musuh oleh Raja Bangli diperintahkan di Pura Kahyangan Raja Bangli  seluruh Pendeta Siwa Budha, Bhujangga dan para Pemangku mengadakan pebaktian untuk memohon penolak musuh. Di Pura Bukit Hyang Pandakan beryoga Sri Bhujangga Wesnawa untuk memohon penolak bencana. Di Pucak Hyang Ukir/Hyang Api beryoga Pendeta Budha dengan sarana Genta. Di Perhyangan Hyang Tanda Kehen beryoga Pendeta Siwa, di Perhyangan Hyang Tegal Bebalang beryoga Pemangku Gede, pura-pura lainnya tetap dibuka pintu/lawangannya selama menghadapi musuh, di Pura Hyang Waringin Pemangkunya bersama pemangku Dalem Tengahan
          Pasukan Laskar Guak Bala Yudha I Gusti Panji Sakti sudah berhasil menguasai Desa Satra, Bantang, Catur, Selulung, Bayung Gede. Rakyat Bayung Gede lari tunggang langgang sampai di Desa Pengelipuran, Desa Langkan, sebagian ke Pucangan dan Kayubihi serta banyak tercecer ke desa-desa lainnya. Laskar Guak Bala Yudha Raja Buleleng sudah sampai di tanah KEKERAN di sebelah utara Bukit Pandakan penyapu mala petaka dengan Manik Yuyu Geringsing yang badan dan kakinya mengeluarkan Api, Yuyu itu membayang-bayangi Laskar Guak Pasukan Bala Yudha Raja Buleleng hingga tidak berani melewati Padukuhan Kubu. Bala Yudha Buleleng berminggu-minggu tinggal di tanah Kekeran, sampai-sampai membuat pondok/kemah di Kalangan Kekeran, Sanan Pemikul Perbekalan yang terbuat dari Bambu ditancapkan sebagai tiang pondok perkemahan, tiang bambu tersebut banyak yang hidup sehingga disebut Bambu/tiing Bekelan. Laskar Guak Bala Yudha Buleleng mengupayakan berbagai cara untuk bisa melewati Padukuhan Kubu Bukit Pandakan namun sia-sia tetap tidak berhasil, suara Bende yang dibanggakan menjadi andalannya sudah tidak bisa berbunyi lagi, pada tengah malam dengan tidak diduga-dugadatang dari arah selatan Api yang berbentuk Yuyu/Kepiting dengan jumlah yang sangat banyak menyerang Laskar Bala Yudha Buleleng, banyak Bala Yudha yang mati dengan perut terrobek-robek oleh Yuyu yang sangat besar tersebut, pasukan Balaq Yudha Buleleng lari tunggang langgang dikejar oleh Yuyu yang besar-besa, sudah hampir pagi Bala Yudha Buleleng lari kembali ke utara sehingga berpapasan dengan Bala Yudha Bantuan dari Buleleng yang bersenjata lengkap dibawah pimpinan Ki Pasek Menyali. Pasukan Guak yang dikejar oleh Yuyu Api lupa menyuarakan Bende karena sakeng takutnya, sehingga pasukan bantuan yang bersenjata lengkap terkejut dikira laskar Bangli yang menyerang dari kegelapan, dalam suasana yang gelap dan tegang pertempuranpun tak dapat dihindarkan Pasukan Goak saling bantai satu dengan yang lainnya sehingga banyak mayat bergelimpangan di tempat tersebut. Sesudah pagi baru diketahui pasukan yang datang dari arah utara adalah pasukan Buleleng yang dipersiapkan untuk membantu Laskar Goak menyerang Bangli karena Raja Buleleng I Gusti Panji Sakti mendapat pawisik bahwa Raja Bangli sudah menyerah di Pura Kehen, pasukan Bulelengpun baru menyadari bahwa yang mereka bantai itu adalah Laskar Guwak Bala Yudha Buleleng yang lari tertatih-tatih, apapun yang dikata sudah banyak prajurit yang gugur dalam pertempuran saudara tersebut, tempat itu akhirnya dinamai Desa Bangkelet = bangke kelet. pasukan Buleleng akhirnya mengundurkan diri ke Buleleng. Dan akhirnya terbutklah Pura Pucak Hyang Ukir yang berada di Kota Bangli.

Piodalan

Untuk piodalan di Pura ---

Lokasi:

Pura Batu Bolong yang terletak di Desa canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Jarak tempuh ke lokasi pura ini sekitar 18 km dari kota denpasar dan kira-kira 45 menit perjalanan dari bandara Ngurah Rai bila menggunakan kendaraan bermotor. Dari lokasi pura kita dapat menyaksikan panorama yang indah sepanjang pantai yang berada di daerah kawasan Kuta dan kawasan Bukit.

 

Maps

Struktur Pura

Pura Batu Bolong didirikan sebagai tempat pemujaan kepada Ida Batara Segara dan merupakan salah satu Pura Kayangan Jagat di Bali.Masyarakat Hindu di Bali selalu datang setiap hari ke pura ini untuk melakukan sembahyang memohon berkah dari Ida Batara Segara agar diberikan kerahayuan dan kerharmonisan. Selain itu pura Batu Bolong  merupakan tempat penyucian benda-benda sakral milik pura-pura yang ada di Bali  seperti pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya. Ritual upacara seperti Melasti, Pekelem, Purnama kapat dan Piodalan selalu diadakan dipura ini.
Pura Batu Bolong terletak kira-kira 50 meter dari bibir pantai Canggu dengan posisi menghadap kearah selatan pulau dan berada di lahan seluas kira-kira 50 are, seperti halnya pura-pura kayangan jagat yang ada di Bali, pura ini juga memiliki Tri Mandala yaitu :
1. Nistaning Mandala (jaba sisi),
2. Madianing Utama (halaman tengah) dan
3. Utamaning Mandala (jeroan).

1. Jaba sisi (outer courtyard)
Merupakan bagian terluar dari suatu kawasan pura.Di tempat ini bisanya ditemukan bangunan seperti dapur atau pewaregan.

2. Jaba tengah (middle courtyard)
Merupakan bagian tengah dari pura.Pada bagian ini biasanya dibangun Bale Kulkul, Bale kesenian dan tempat pesantianrapat (sangkep) para anggota pengempon pura.

3. Jeroan (inner couryard)
Merupakan bagian yang tersuci dari pura.Di Jeroan biasanya dibangun tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wase berupa pelinggih-pelinggih seperti Tri Murti yang merupakan tempat pemujaan Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pemeralina.

Foto-Foto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat